Minggu, 12 Februari 2012

Teori-Teori Organisasi


Teori Organisasi
1.      Teori Taylorisme
Taylorisme adalah nama yang populer untuk gagasan F. W. Taylor dan kini bersinonim dengan sebutan “efficiency expert”. Berikut lima prinsip dasar Taylorisme:
a)      Geser tanggung jawab keorganisasian dari pekerja ke manajer. Manajer adalah pihak yang harus memikirkan perencanaan dan perancangan kerja.
b)      Gunakan metode ilmiah (scientific method) untuk menentukan cara yang paling efisien untuk melakukan suatu pekerjaan (misalnya dengan memakai teknik time and motion study). Kemudian rancanglah pekerjaan untuk tiap pekerja dengan menetapkan secara jelas dan detail mengenai pekerjaan apa saja yang dilakukan.
c)      Pilih orang yang tepat untuk melakukan pekerjaan yang baru dirancang tersebut.
d)     Latihlah karyawan tersebut untuk melakukan pekerjaannya secara efisien.
e)      Lakukan monitoring terhadap kinerja karyawan untuk menjamin prosedur kerja yang telah ditetapkan benar-benar dijalankan dan tujuan yang dikendaki dicapai.
Penggunaan teknik tersebut di atas ditujukan untuk mempersingkat waktu pengerjaan dengan memaksa para pekerja menghilangkan “waktu yang tidak produktif”. Itu merupakan sebuah waktu dan gerak yang telah banyak dilakukan untuk menemukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dibandingkan dengan “rule of thumb”. Perlu juga dikemukakan di sini bahwa teknik Taylorisme tidak hanya diterapkan di pabrik (production floor), tetapi juga dibagian administrasi (office work) dengan cara memecah rangkaian pekerjaan (integrated tasks) menjadi komponen-komponen yang spesifik (specialized components) untuk dikerjakan oleh masing-masing ahlinya.
2.      Teori Kontijensi Struktural
Hakikat teori kontijensi adalah tidak ada satu cara terbaik yang bisa digunakan dalam semua keadaan (situasi) lingkungan. Masuknya pengaruh variabel lingkungan dalam analisis organisasi diawali dengan kemunculan pendekatan sistem (system approach) dalam analisis organisasi dimana kemunculan pendekatan ini sebenarnya karena inspirasi dari ilmu biologi, khususnya yang dikemukakan oleh Ludwig von Bertalanffy. Pendekatan sistem dibangun berdasarkan anggapan bahwa organisasi pada hakekatnya mirip dengan organisme (makhluk hidup) yang terbuka terhadap pengaruh lingkungan sekitarnya. Menurut pendekatan ini organisasi adalah sebuah open system besar yang di dalamnya terdiri dari beberapa sub-sistem yang saling terkait. Organisme di dalam sistem semacam itu akan mengambil dan sekaligus memberikan sesuatu dari dan kepada lingkungannya. Dengan pola simbiose take and give itulah organisasi mempertahankan hidupnya.
Sama halnya dengan makhluk hidup, menurut Teori Kontijensi tujuan akhir sebuah organisasi dalam beroperasi adalah agar bisa bertahan (survive) dan bisa tumbuh (growth) atau disebut juga keberlangsungan (viability). Ada dua hal yang dilakukan organisasi untuk menjalankan penyesuaian hidup terhadap lingkungannya. Pertama, manajemen menata konfigurasi berbagai sub-sistem di dalam organisasi agar kegiatan organisasi menjadi efisien. Kedua, bentuk-bentuk spesies organisasi memiliki efektivitas yang berbeda-beda dalam menghadapi perubahan dalam lingkungan luar. Dengan kata lain mekanisme sistem pengendalian bisa sangat bervariasi sesuai dengan variasi lingkungan yang dihadapi. Dalam rangka mencari cara yang efektif, organisasi seharusnya menghubungkan permintaan lingkungan eksternal dengan fungsi-fungsi internalnya. Seorang manajer harus bisa mengatur harmonisasi fungsi-fungsi organisasinya dengan kebutuhan manusia.
Teori kontijensi memberi penekanan pada perlunya memfokuskan pada perubahan. Tidak ada satu aturan atau hukum yang memberi solusi terbaik untuk setiap waktu, tempat, semua orang atau semua situasi. Ada beberapa anggapan dasar dalam teori kontijensi, yaitu antara lain:
a)      Manajemen pada dasarnya bersifat situasional. Konsekuensinya teknik-teknik manajemen sangat bergantung pada situasi yang dihadapi. Jika teknik yang digunakan sesuai dengan permintaan lingkungan, maka teknik tersebut dikatakan efektif dan berhasil. Dengan kata lain diversitas dan kompleksitas situasi eksternal yang dihadapi organisasi harus di pecahkan dengan teknik yang sesuai.
b)      Manajemen harus mengadopsi pendekatan dan strategi sesuai dengan permintaan setiap situasi yang dihadapi. Kebijakan dan praktik manajemen yang secara spontan dapat merespon setiap perubahan lingkungan bisa dikatakan efektif. Untuk mencapai keefektifan ini organisasi harus mendesain struktur organisasinya, gaya kepemimpinannya, dan sistem pengendalian yang berorientasi terhadap situasi yang dihadapi.
c)      Ketika keefektifan dan kesuksesan manajemen dihubungkan secara langsung dengan kemampuannya menghadapi lingkungan dan setiap perubahan dapat diatasi, maka harus ditingkatkan keterampilan mendiagnosa yang proaktif untuk mengantisipasi perubahan lingkungan yang komprehensif.
d)     Manajer yang sukses harus menerima bahwa tidak ada satu cara terbaik dalam mengelola suatu organisasi. Mereka harus mempertimbangkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik manajemen yang dapat diaplikasikan untuk semua waktu dan semua kebutuhan. Tidak ada solusi yang dapat diaplikasikan secara universal.
3.      Teori Ketergantungan Sumber Daya
Teori Ketergantungan Sumber Daya dibangun berdasarkan asumsi-asumsi di bawah ini:
a)      Organisasi-organisasi dianggap terdiri dari koalisi internal-eksternal yang muncul dari pertukaran sosial yang dilakukan untuk mempengaruhi dan mengendalikan perilaku.
b)      Lingkungan dianggap berisi sumber daya yang langka dan penting untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.
c)      Organisasi dianggap bekerja untuk mencapai dua tujuan yaitu: mendapatkan kendali atas sumber daya bisa meminimalkan ketergantungannya pada organisasi lain dan meningkatkan kendali atas sumber daya yang memaksimalkan ketergantungan organisasi lain padanya.
Walaupun pandangan bahwa organisasi terkendala oleh faktor eksternal sepertinya berpaham determinisme, menurut Pfeffer dan Salancik organisasi tidaklah pasif dalam menghadapi kendala eksternal tersebut. Organisasi juga merespon lingkungan melalui berbagai diskresi manajemen dalam bentuk mempengaruhi organisasi lain, berkoalisi dengan organisasi lain atau merubah lingkungan. Merger, diferensiasi, dan lobi pada pemerintah bisa kita anggap sebagai contoh bagaimana merespon lingkungan.
4.      Teori Ekologi Populasi
Teori Ekologi Populasi membahas perubahan organisasi sebagai fungsi dari kekuatan-kekuatan lingkungan pada populasi organisasi, khususnya pada proses pembentukan dan kegagalan organisasi. Pandangan Ekologi Populasi tersebut menentang pendapat Teori Kontijensi Struktural yang menyatakan bahwa proses adaptasi dilakukan pada level individu organisasi. Bagi Teori Ekologi Populasi adaptasi terjadi pada level populasi melalui proses lahir (birth) dan mati (death). Oleh sebab itu proses adaptasi yang dijalankan oleh organisasi sebetulnya lebih merupakan proses seleksi alam (Donaldson,2000).
Berikut ini adalah beberapa konsep yang lazim ditemui dalam tulisan-tulisan mengenai Teori Ekologi Populasi:
a)      Structural inertia. Structural inertia adalah kecenderungan organisasi untuk mempertahankan struktur internalnya apapun yang terjadi pada fakor lain-lainnya. Jadi sebenarnya konsep ini merujuk pada ketidakmampuan suatu organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungannya: semakin kuat tekanan structural inertia, semakin rendah fleksibilitas adaptif organisasi tersebut. Teori structural inertia menyatakan bahwa proses perubahan akan menciptakan masalah reorganisasi internal dan legimitasi eksternal (Hannan dan Freeman, 1984).
b)      Liability of newness. Liability of newness berunjuk pada kenyataan bahwa risiko mati (bangkrut) organisasi yang masih baru adalah tinggi dan risiko ini akan menurut sejalan dengan bertambahnya usia perusahaan (Stinchombe, 1965).
c)      Liability of smallness. Liability of smallness merujuk pada kecenderungan menurunnya tingkat kematian (mortality rate) sejalan dengan semakin besarnya ukuran organisasi. Ada dugaan mengapa hal ini bisa terjadi, yaitu karena organisasi-organisasi besar umumnya memiliki akuntabilitas, reliabilitas dan legitimasi yang juga lebih besar.
d)     Niche width theory. Niche width theory menyatakan bahwa populasi organisasi menempati niche yang sama dalam arti bahwa mereka tergantung pada sumber daya lingkungan yang identik. Jika dua populasi organisasi menempati niche yang sama tapi berbeda dalam hal karakteristik organisasi, maka populasi yang memiliki kecocokan yang lebih kecil dengan karakteristik lingkungan akan dieliminasi.
e)      Generalist population dan specialist population. Terkait dengan niche width theory teori Ekologi populasi menyatakan bahwa generalist population tergantung pada rentang niche yang lebar sumber daya lingkungan. Keadaan ini akan memaksimalkan eksplorasi tetapi akan meningkatkan risiko. Sebaliknya specialist population tergantung pada kondisi lingkungan yang spesifik atau rentangan niche yang sempit dan hal tersebut akan memungkinkan organisasi di dalamnya untuk makmur dari pemanfaatan niche khusus tersebut. Perbedaan karakteristik keluasan rentangan niche ini akan berpengaruh pada strategi organisasi yang ada di dalamnya.
f)       Density dependence. Density dependence menyatakan bahwa legimitasi dan kompetisi bergantung pada tingkat kepadatan populasi. Pada waktu tingkat kepadatan rendah, proses legitimasi mendominasi dan hal ini akan meningkatkan tingkat kelahiran dan menurunkan kematian organisasi. Pada waktu tingkat kepadatan tinggi, kompetisi akan mendominasi dan hal ini akan menurunkan tingkat kelahiran dan meningkatkan tingkat kematian organisasi.
Ada beberapa asumsi dasar yang digunakan dalam pembahasan-pembahasan. Teori Ekologi Populasi (Robbins, 1990). Pertama, teori ini memusatkan pada kelompok atau populasi organisasi, bukan sebuah organisasi. Kedua, teori ini mendefinisikan efektivitas organisasi semata-mata sebagai survival (mampu bertahan hidup). Ketiga, lingkungan sangat menentukan dan manajemen memiliki pengaruh yang kecil terhadap kemampuan organisasi untuk bertahan hidup. Keempat, kapasitas (daya dukung/carriying capacity) lingkungan adalah terbatas.
5.      Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori keagenan dibangun sebagai upaya untuk memahami dan memecahkan masalah yang muncul manakala ada ketidaklengkapan informasi pada saat melakukan kontrak. Kontrak yang dimaksudkan disini adalah kontrak antara prinsipal (pemberi kerja, misalnya pemegang saham atau pimpinan perusahaan) dengan agen (penerima perintah, misalnya manajemen atau bawahan). Teori keagenan meramal jika agen memiliki keunggulan informasi dibandingkan prinsipal dan kepentingan agen dan principal berbeda, maka akan terjadi principal-agent problem dimana agen akan melakukan tindakan yang menguntungkan dirinya namun merugikan prinsipal. Beban yang muncul karena tindakan manajemen tersebut menjadi agency costs.
Pandangan teori keagenan tersebut pada hakekatnya dibangun dengan memperluas teori yang dibahas dalam karya-karya Coase, Berle, dan Means. Coase meletakkan landasan mengapa organisasi diperlukan. Coase mengakui bahwa baik solusi dengan pasar ataukah dengan organisasi keduanya sama-sama memiliki konsekuensi biaya. Dalam konteks ini agency costs, adalah merupakan biaya (transaction cost atau lebih tepat lagi cost ef governance) yang terjadi manakala solusi organisasi adalah yang dipilih (untuk mendistribusikan barang dan jasa dalam masyarakat).

2 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini